Bagi
partai yang kurang percaya diri, artis adalah jembatan menuju
popularitas. Namun hal ini tidak berlaku bagi parpol yang memiliki
kejelasan proses kaderisasi di dalamnya. Kita lihat saja, umumnya,
parpol yang menggunakan artis semakin banyak adalah parpol yang secara
internal tidak memiliki proses kaderisasi secara ketat. Proses rekrutmen
sdm mereka relatif mudah, terbuka, bahkan “terlalu gampang” bagi
siapapun.
Sulit
rasanya menemukan kesamaan-kesamaan performance kepribadian para elit
atau kader- kader terbaiknya. Mereka lebih “hanya” mengandalkan
popularitas orang lain yang kemudian bergabung.
Dibawah ini, ada tulisan dari kompas yang cukup menarik dan setidaknya cukup layak kita renungkan bersama.
——————————————————————————
Kompas, Sabtu, 9 Agustus 2008 | 14:11 WIB
GANDENG ARTIS TANDA KRISIS DI TUBUH PARPOL
Jakarta, Sabtu-
Menjelang berakhirnya batas pencalegan, sejumlah partai politik
melakukan berbagai manuver untuk menggaet calon-calon anggota legislatif
yang akan disodorkannya pada pemilih. Fenomena yang terjadi, tak
sedikit partai politik yang menggandeng artis sebagai calegnya. Fenomena
artis terjun ke kancah politik, sebenarnya tak hanya terjadi pada saat
ini. Namun, trendnya semakin meningkat setelah ada artis yang berakhir
meraih posisi strategis di level Provinsi maupun Kabupaten. Dan semakin
kentara, ketika mendekati masa Pemilu. Ada apa dibalik fenomena ini?
Budayawan
Radar Panca Dahana menilai, faktor krisis kepercayaan diri yang dialami
parpol membuat parpol-parpol merancang strategi untuk memulihkan citra
buruknya. Terseretnya sejumlah politisi ke liang korupsi, membuat
masyarakat tak lagi percaya dengan sepak terjang mereka. Kehadiran
artis, menjadi alternatif bagi masyarakat. Meskipun, masih sekadar
performatif alias mengandalkan penampilan.
“Di
politik, terjadi krisis kepercayaan dari politisi dan elit politik
ketika lembaga-lembaga, individu-individu dimata masyarakat sudah hancur
citranya. Mereka tengah kehabisan akal untuk mengembalikan citra itu.
Akhirnya, salah satu upayanya ya menggandeng para artis itu. Artis itu
hanya dijadikan manekin politik, bumper dan semacam pita
penghias rambut. Secara substansial, kita belum bisa menemukan artis
yang memiliki gagasan politik yang menjadikan mereka bisa diandalkan,”
papar Radar di Jakarta, Sabtu (9/8).
Efek
negatif dari fenomena ini, menurut Radar menjadikan politik sebagai
sesuatu yang terlalu cair. Akibatnya, tak ada lagi pemahaman yang
memadai tentang politik yang kontemplatif dari para pelakunya. Sisi
positifnya, dunia politik tidak lagi teralienasi dan dianggap sesuatu
yang mengerikan. “Bandingkan saja, dulu masyarakat menganggap dunia
politik itu sesuatu yang mengerikan. Karena dulu politik dikuasai suatu
rezim. Tapi sekarang, ada kesadaran politik yang tinggi,” ujar Radar.
Pandangan
yang hampir sama juga datang dari pengamat politik Tjipta Lesmana.
Dalam pandangan pakar komunikasi politik itu, membanjirnya artis yang
berniat menjadi anggota legislatif patut dicurigai. Hal ini menguatkan
tesisnya bahwa selama ini terjalin kedekatan antara politisi dengan
selebriti. “Artis masuk ke politik, sah-sah saja. Tapi kalau jadi
fenomena dan banyaknya artis yang tiba-tiba menjadi politisi, patut
dicurigai. Ini akan menurunkan citra politik itu sendiri,” kata Tjipta.
Selain
itu, persepsi publik terhadap artis yang kebanyakan seorang pelakon dan
penyanyi, membuat mereka tak akan dihargai dan dipandang sebelah mata
kiprahnya sebagai politisi. “Saya tetap meragukan artis yang menjadi
politisi. Survei dan evaluasi yang saya lakukan, belum ada bukti artis
yang berhasil menjadi politisi. Kalau mereka menjadi politisi hanya
mengandalkan popularitas, mau dibawa kemana negara ini?,” beber Tjipta.
Artis
Ikang Fauzi yang akan menjadi caleg dari Dapil Pandeglang Banten,
menyangkal seluruh anggapan pesimistis itu. Ia merasa, artis juga
mempunyai kapabilitas dan kualitas untuk menjadi politisi. Modal
pendidikan formal yang dimiliki, menurutnya menjadi pengantar memasuki
gerbang Senayan. Ia pun menyatakan akan memilih untuk duduk di komisi
yang sesuai dengan kemampuannya.”Saya selama inikan berbisnis di
properti, pernah juga memimpin pembangunan rumah susun sederhana, jadi
saya akan memilih di komisi yang saya tahu, misalnya komisi mengenai
infrastruktur,” kata caleg PAN ini. So, kita tunggu saja…
sumber : http://nsudiana.wordpress.com/2008/08/22/fenomena-caleg-artis-kaderisasi-partai/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar